Belajar Bahasa Tondano (part IV)

Merky Worek

Merky Worek

Reduplikasi (pengulangan suku) & Imbuhan2 dlm b Toudano.

Reduplikasi hanya terjadi pd suku pertama, yg umumnya suku2 pertama hanya terdiri dari suku2 yg terbuka (serupa dgn b Tount.); suku2 inilah yg diulangkan.
ump: aäsaren = cirita paninggalang (hadis) KD “asar” = menuturkan;
uümanen = dongengan, KD “uman” = cirita nonsèng (dongeng).
Reduplikasi dgn cara membentuk suku hidup bervokal “e” dgn huruf awal berkosonan sama dgn konsonan kata dasar suku pertama, maka suku yg terbentuk itu ditempatkan mendahului Kata Dasar.
misalnya: lelobo’ = jala, KD lobo’; “Si lengèi meniwo lelobo’ = dia bontok babèking jala”.
Disinipun dpt kita melihat jikalau suku yg diulangkan terdiri dari sebuah konsonan dan dituruti oleh sebuah vokal maka vokal dari suku yg diulangkan itu berobah menjadi “e” (terjadi juga dlm b Tounsèa). Sedangkan dlm dialek Kakas dan Remboken vokal ini tidak berobah.
Kata Dasar yg diberi awalan, antara lain: ika- atau maki- umumnyapun di anggap sebagai kata-kata yg diulangkan.
ump: ika-ikaupus = mengasihi sekali; KD upus = kasih.
maki-makiupus = makin mengasihi.

Imbuhan-Imbuhan:
1. Awalan, 2. Sisipan, 3. Akhiran
Awalan “ma” mengandung arti: melaksanakan, melakukan, mempergunakan atau mengerjakan sesuatu yg dinyatakan oleh kata dasar (KD).
misalnya: maäto = melihat; “Si Tulung si maäto si kusè = Tulung sedang melihat kuskus”.
makèlang = berjalan; “Si urangena si metete’umou makèlang = anaknya sedang belajar berjalan”.
Jikalau KD menaruh vokal “a” pd suku pertama dan diimbuhi oleh awalan yg berakhir dgn vokal “a” maka vokal ini berobah menjadi “e ” dlm hal ini “ma” menjadi “me”
contoh: mepa’yang = sedang bekerja; “Si amaku si mepa’yang waki uma = ayah saya sedang bekerja di ladang/kebun”.
Perobahan demikian juga pd awalan2 lain yg pd suku akhir menaruh vokal “a”
seperti: “mapa” menjadi (>) “mepe”; “ka” > “ke”; “kapa”> “kepe”, dst.
Dgn perobahan ini maka terdapat 2 awalan “me” yaitu awalan “me dari ma” dan “me” dari golongan “me” yg tidak disengaukan pd kata2 dasar yg mulai dgn konsonan2 “r,l,g”
Awalan “me” < “ma” diimbuhkan pd kata dasar;
ump: menèro = mencari; “Sè matilalem menèro nisia = mereka menyelam mencari dia”.
Awalan “me” dari golongan “me” yg tidak disengaukan . Jika KD mulai dgn sebuah vokal maka awalan tsb di tambah dgn “ng”; jika mulai dgn abjad “k” maka diganti oleh “ng”; “t dan s” diganti oleh “n”; “p dan w” diganti oleh “m”; selainnya “r,l,gh dan g” cukup dgn “me” saja.
ump: KD “èdo = ambil” (mengèdo kokong = mengambil/memotong kepala).
“kèlang = berjalan” (Si merepet itè mengèlang sia = ia cepat2 saja berjalan).
“sèro = cahari” (Sè matilalem menèro nisia = mereka menyelam mencari dia”.
“wui = menanya” (Laa memui em balè = pergi menanyakan rumah).
KD yg mulai dgn konsonan2 “r,l,g” tidak disengaukan, jadi berawal “me” saja, tapi lebih lazim dipergunakan bentuk “um” dari reduplikator.
ump: “lumelèwo’ = biasa berbuat jahat”; “lumelangkoi = biasa liwat”

Awalan “pa” menunjuk makna sesuatu menjadi “alat” melakukan pekerjaan, yg sering pula berobah menjadi “pe” dgn maksud yg sama.
ump: “paketor = buat memotong”; “Pepatil toro i paketor eng kaai sela = parang boleh saja dipakai memotong kayu yg besar”.
“pekaan = alat makan”; “Lawas en toro i pekaan ta’an na’è en dei’ = tangan boleh dipakai utk makan tetapi kaki tidak”.
Awalan “ka” yg sering pula berobah menjadi “ke” terutama karena pengaruh vokal pd KD.
contoh: “katewel = terlalu tajam”; “eng Katewel paaghi’mu = pisaumu terlalu tajam”. “Kelaker = terlalu banyak”; “Sè kelaker sè tu’a minerur = terlalu banyak org tua2 yg datang berkumpul”.
“ka” dgn makna “teman sekerja, setempat tinggal, dsb”:
kaäwu = teman hidup (istri/suami);
kewalè = teman serumah;
kesaru = berhadapan.
“ka” dgn arti “terlalu”:
kaoki = terlalu kecil;
katoyo’ = terlalu sedikit;
kelaker = terlalu banyak.
“ka” dgn arti “dapat, sanggup, mampu”:
kalewet = dapat menyeberang;
kewaèr = sanggup membayar;
kepatik = mampu menulis.

Tatabahasa Tou-en-dano/Tou’ndano/Toun

dano
Beberapa kemungkinan kombinasa (awalan):
“maki” awalan ini mengandung arti “meminta/memohon org lain utk melakukan yg dinyatakan KD”
misalnya: “makisèrèt” meminta agar dpt ikut naik (KD sèrèt); “makito’rong” meminta menyambungkan.
Bentuk pasif awalan “maki” ialah “paki” dlm arti “diminta/dimohon lakukan sesuatu yg dinyatakan KD”
misalnya: “i pakiliwagh” diminta tanyakan; “i pakikoo’ ” diminta minumkan.

“mapa” dgn makna “menyuruh di …(buat)”
misalnya: “mapasiwo” menyuruh buatkan; “mepekaan”(perhatikan tulisan yg lalu tentang perobahan ..
bila KD menaruh vokal “a” pd suku pertama dan diimbuhi oleh “awalan” yg berakhir dgn vokal “a” maka vokal itu berobah menjadi “e”)= menyuruh makan.
“papa” dgn makna “suruh buatkan/kerjakan”
misalnya: “papasiwo” suruh membuatkan.

“maka” dgn makna “mempunyai”
“makatelu” tiga kali “Si makatelu kumè’ang” ia tigakali melangkah.

Sumber dari Bpk

Boẻng Dotulong

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: